Beberapa Alasan Animator Lokal Belum Bersaing di Kancah Global

Beberapa Alasan Animator Lokal Belum Bersaing di Kancah Global

Duniabola99 - Dibandingkan sejumlah negara lain, perkembangan industri animasi di Indonesia masih tertinggal. Tidak adanya ekosistem yang menunjang menjadi penyebab sulitnya gerak dan arah untuk mengembangkan industri animasi.

Menurut Ketua Cimahi Creative Association (CCA) Rudy Suteja, perkembangan industri animasi Indonesia masih tertinggal, disebabkan belum terbangunnya ekosistem. Dikatakan Rudy, para penggiat animasi sering kesulitan ketika harus memasarkan karyanya.

"Kita tuh yang belum terbangun ekosistem industri animasi. Di beberapa negara, itu dibangun lebih awal sehingga industrinya lebih terarah. Di kita itu ketika ada studio animasi, orang akan kebingungan menjual produknya ke mana. Kalau di negara lain, sudah jelas akan menjual ke mana dan orang yang membutuhkan animasi pun tidak repot carinya ke mana," tuturnya saat ditemui di Gedung Baros Information and Technology Creative (BITC) di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (12/7/2018).

Memang, masih sedikit animator Indonesia yang bersaing di kancah global. Namun Rudy menilai, perkembangan animasi di Indonesia saat ini mulai lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, dengan dibukanya kelas-kelas animasi di SMK dan universitas.

"Bagaimana pun juga kita sedang mengarah ke arah yang lebih baik. Di SMK dan universitas mulai ada jurusan animasi. Dulu kan tidak ada dan otodidak. Meskipun untuk bersaing ke level global, orang yang kemampuannya level global di Indonesia tidak banyak, bisa dihitung," ujar Rudy.

Untuk meningkatkan kemampuan para animator, Kementerian Perindustrian menerapkan sertifikasi. Namun, upaya itu belum cukup untuk memasuki industri animasi, karena industri lebih membutuhkan skill yang dimiliki dibanding sertifikat. Selain itu, lembaga yang mengujinya pun mestinya bisa lebih kredibel.

"Kementerian perindustrian membuat sertifikasi untuk level paling bawah. Sertifikat ini tidak bisa dijual ke perusahaan, karena perusahaan pasti akan mengetes lagi. Jadi, sertifikasi ini belum berjalan dengan semestinya. Ke depannya, lembaga yang mengetesnya harus kredibel," tegas Rudy.

Hasil karya yang dihasilkan oleh animator, biasanya dibayar hingga Rp 20 juta dalam satu bulan. Adapun bisnis animasi sendiri dibagi ke dalam dua jenis, yakni servis dan intelektual properti.

"Bisnis animasi itu ada dua, servis dan intelektual properti. Servis itu mengerjakan punya orang, lalu digaji hasilnya bisa Rp 3 juta hingga Rp 20 juta dalam satu bulan. Sedangkan, kalau intelektual properti ini punya ciri khas sendiri tapi sama juga digaji," ucap Rudy.

Selain persoalan ekosistem dan skill yang dimiliki para animator, perangkat yang digunakan pun jadi penghambat. Untuk menghasilkan karya sebesar Disney, perangkat yang dimiliki belum mampu menunjang.

"Perangkat itu sebetulnya masih jauh kalau levelnya untuk bersaing ke global, tapi kalau pekerjaan, seperti pekerjaan pemerintah atau perusahaan lokal itu sudah cukup. Tapi kalau untuk mengerjakan layar lebar yang kekuatannya seperti Disney, itu sudah ketinggalan. Kita belum mampu untuk menuju ke sana. Karena perangkat-perangkat ini pun tidak murah," pungkas Rudy.

Penulis Artikel

sanjaya novarina

sanjaya novarina

pernah sekali ingin memiliki tpi apa daya belum ada jodohnya :) , kalo kehendak tuhan semoga dapat jodoh yg pas di hati
Do you have any presale question to ask?

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been.