Cerita Sangek

Kisah Bercinta Ku Dengan Gadis SMU

Lestari atau panggilannya Tari, gadis berkulit putih, tinggi 169 cm, berat 53 kg dan ukuran payudaranya saya perkirakan 37B, betul-betul anak SMU yang baru berkembang. Awal perkenalan saya dengan Tari, kami janji bertemu di rental internet favorit saya dekat mall.
“Hallo.. Om yang namanya Bagas?” tanya seorang gadis SMU pada saya.
“Iya.. Lestari ya?” tanya saya kembali padanya sambil memperhatikan wajahnya yang manis, rambut hitam lurus sebahu dan masih memakai seragam SMU-nya.

“Lagi ngapain Om?” tanyanya sambil duduk di kursi sebelah saya.
“Nitat email yang masuk nich, panggil aja Bagas ya” pintaku.
“Ya, panggil juga saya dengan Tari” jawabnya sambil mepet melihat ke arah monitor komputer.
“Okey, Tari bolos sekolah ya, jangan keserinngan bolos loh” nasehatku.
“Enggak kok, wong nggak ada guru, lagi ada rapat tuch”
Wangi juga bau parfumnya, mana rok abu-abunya span lagi, si boy jadi bangkit nich. Wah, kalo bisa Bercinta sama Tari, asyik juga.. Huh dasar lagi mumet nich otak, maunya si boy saja.
“Gas, Tari boleh tanya nggak?”
“Boleh aja, Bagas itu orangnya terbuka kok en’ fair, mau nanya apa?”
“Kalo tamu ceweknya Bagas ngajak jalan-jalan, bayar nggak?”
“Oh itu, ya terserah ceweknya, pokoknya keliling Lombok ditanggung senang dech”
“Masalah hotel, akomodasi dan lain-lain ditanggung tamu, gitu”
“Kalo bercinta gimana?” tanya Tari antusias.
“Kalo bercinta sich, terserah tamunya, kalo suka sama Bagas, ayo aja”
“Biasanya Bagas selama ini dibayar berapa sich?”
“Ya, kira-kira lima ratus ribu sampai satu jutaan”
“Itu berapa hari?”
“Terserah tamunya aja mau berapa hari, okey, puas?”
“Mmh..” guman Tari seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.
“Kalo Tari udah pernah dicium belum atau udah pernah bercinta?” tanyaku.
“Ih, si Om nanyanya gitu”
“Ah, nggak usah malu sama Bagas, ceritain aja”
“Belum sich Gas, cuma kalo nonton BF sering”
“Jangan ditonton aja, praktek dong sama pacar” tantang saya sambil menepuk pundaknya.
“Pacarnya Tari itu agak aneh kok”
“Gimana kalo praktek sama Bagas, ditanggung senang dan tidak bakalan hamil”
“Hush, jangan aneh-aneh Gas, Tari udah punya pacar lho”
“Nggak aneh kok, kalo praktek pacar-pacaran” rayu saya, sepertinnya ada peluang nich. Saya harus merayunya supaya Tari tidak ragu-ragu lagi.
“Iya sich, tapi..” jawabnya ragu-ragu.
Setelah selesai membalas email yang masuk, saya berencana mengajak Tari ke pantai Senggigi, siapa tahu ada kesempatan, ya nggak pembaca. Ternyata Tari itu tinggal bersama ibunya yang masih berusia 48 tahun dan suaminya tugas keluar pulau selama beberapa bulan.
“Mau nggak ke pantai jalan-jalan, tadi Tari naik apa?”
“Naik mobil, pake mobil Tari aja” ajaknya bersemangat sambil menggandeng tangan saya seperti Om dan keponakannya.
Ternyata mobilnya memakai kaca rayban gelap dan ber-AC lagi, jadi siang itu kami meluncur ke pantai senggigi dan sebelumnya kami membeli beberapa camilan dan saya juga membeli kondom, biasa.. he.. he..
Tari menjalankan mobil dengan santai, tapi saya jadi tegang terutama si boy dan bukan mobilnya yang jalan santai yang membuat saya tegang, rok abu-abunya itu lho. Sudah span, pas duduk dalam mobil otomatis bertambah pendek saja hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya yang putih mulus dan masih kencang. 
“Eh, Gas kok bengong, ngelamun jorok ya?”
“Eh.. Eh.. Nggak juga” jawab saya tergagap-gagap.
“Terus kenapa Lihatin pahanya Tari terus”
“Badanmu itu bagus kok, rajin fitnes ya?”
“Pasti, supaya badan Tari tetap fit dan seksi. Gimana, seksi nggak?” tanyanya tersenyum.
“Seksi bo! Eh Tari parkir aja yang di pojok tuch” tunjukku pada sebuah pojokan, agak menjauh dari jalan raya dan terlindungi oleh pepohonan, asyik nih siapa tahu bisa indehoy.
“Bagus juga tuch tempatnya” jawab Tari setuju sambil memarkirkan mobilnya hingga pas dengan lebatnya pepohonan, yang kalau dari jalan raya tidak kelihatan dan juga tempatnya sepi, jauh dari pemukiman dan lalu lalang orang, paling-paling orang yang berjalan di pantai, itupun agak samar-samar. Setelah Tari parkir, kami saling curhat tentang masalah pribadi Tari yang belum pernah bercinta dan ibunya yang sering kesepian ditinggal suaminya pergi.
“Ngomongnya nggak enak ya kalo kita berjauhan begini”
“Maksud Bagas..”
“Tari duduk aja dekat Bagas”
“Tapi kursi itu kan cuma satu”
“Ayo dong Tari, duduk sini kupangku” rayu saya sambil menarik tangan kanannya.
“Malu ah, dilihat orang” jawabnya ragu-ragu sambil melihat ke arah pantai.
“Berarti kalau nggak ada orang nggak malu dong” ujarku sambil menarik tangannya agar mendekat pada saya.
“Ya.. Nggak gitu” jawabnya ragu-ragu.
“Saya udah jinak kok apalagi si boy ini paling jinak” goda saya lagi sambil menunjuk kontol saya yang sudah agak menggembung.
“Ih jorok ih” jawabnya tertawa pelan.
“Mau nggak?”
“Emm.. Bagaimana ya”
“Mau dech..” dan akhirnya dengan paksaan sedikit dan si Tari yang ragu-ragu untuk duduk, saya berhasil menariknya bahkan Tari duduk dengan sedikit ragu.
Saya pangku Tari sambil melihat kembali ke arah pantai. Posisi Tari yang saya pangku menyamping hingga kalau melihat ke pantai agak menoleh sedikit. Posisi itu sungguh enak dan kelihatan si Tari juga menikmatinya, kelihatan dari tangan kanannya yang melingkar pada bahu saya.
“Oh ya, Bagas mau nanya hal pribadi, boleh nggak?”
“Boleh aja, Tari itu orangnya terbuka kok” jawabnya sambil menggeser pantatnya supaya tidak terlalu merosot. Wah si boy saya jadi berdiri gara-gara si Tari memperbaiki posisi duduknya hingga pantatnya yang semok semakin mepet sama si boy.
“Tari pernah nggak bercinta?”
“Mmh.. Gimana ya” jawab Tari ragu-ragu sambil menggigit jari kelingking tangan kirinya.
“Ceritain dong..” bujuk saya sambil mengelus pahanya yang masih terbungkus rok abu-abunya yang mini.
Lumayanlah sebagai permulaan pemanasan, ini kesempatan kalau Tari mau bercinta sama saya dan kalau tidak mau paling ditolak atau ditampar atau ditinggalkan, tapi dari perasaan saya sih, sepertinya mau.
“Pernah sih sama pacar, tapi itu dulu sebelum putus”
“Kok putus, kenapa emangnya?” tanyaku sambil tangan kiri saya memegang pinggangnya yang langsing.
“Sebetulnya Tari sayang sama dia, kalau cuma bericnta sich tidak apa-apa”
“Yang penting pake kondom supaya aman”
“Terus apa masalahnya?”
“Ya itu, bercinta nya agak aneh, masak Tari diikat dulu”
“Wah, itu sich namanya ada kelainan namanya, harusnya dengan lembut”
“Oh ya, Bagas kalau bercinta sama tamunya secara lembut ya”
“Tentu saja, maka banyak cewek yang senang dengan cara yang romantis dan lembut”
“Asyik dong”
“Mau nyobain nggak?” tantang saya sambil mengelus tangan kirinya yang ternyata sangat halus.
“Wuhh.. Maunya tuch” jawab Tari mencibirkan bibirnya yang seksi.
“Pegang aja boleh nggak ya?” tanya saya mengiba dan tangan kanan saya mulai mengelus-ngelus pahanya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dengan lembut.
“Emh.. Gimana ya.. Dikit aja ya” jawab Tari mengejutkan saya yang tadinya cuma bercanda, eh tidak tahunya dapat durian runtuh.
“Tari, mau bagian mana dulu?” goda saya sambil mengelus punggungnya yang halus.
“Ih genit ah..” candanya manja.
Saya naikkan tangan kanan saya mencoba menjamah payudara kirinya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dan kelihatannya tidak ada penolakan dari Tari. Dengan perlahan lehernya saya cium perlahan dan jamahan tangan saya berubah menjadi remasan supaya membangkitkan gairahnya. Ternyata Tari adalah tipe cewek yang libidonya cepat naik.
“Geli.. Gas..” rintihnya pelan, tangan kirinya membantu tangan kanan saya untuk lebih aktif meremas payudara kiri dan kanannya secara bergantian. Lehernya yang putih saya cium dan jilat semakin cepat.
“Sst.. pe.. lan.. Gas..”
Setelah beberapa menit, tiba-tiba Tari menurunkan tangan saya dan tangannya dengan terampil melepas tiga kancing atas bajunya serta mengarahkan tangan saya masuk ke dalam baju seragam SMU-nya dan tangan kirinya mengusap pipi saya. Tangan kananku yang sudah separuh masuk baju seragamnya langsung masuk juga dalam BH-nya yang ternyata berwarna putih polos. Gundukan payudaranya ternyata sudah keras dan tanpa menunggu aba-aba saya remas payudaranya dengan perlahan, kadang-kadang saya pelintir puting susunya.
“Gas.. Sst.. Mmh.. Yang ki.. ri.. sst..” rintihnya pelan takut kedengaran.
“Tari, boleh nggak saya ci..” belum sempat habis pertanyaan saya, Tari sudah mencium saya dengan lembut yang kemudian saya balas ciumannya.
Semakin lama lidah saya mencari lidah Tari dan kami pun berciuman dengan mesra, bahkan saling menjilat bibir masing-masing. Sambil berciuman, kancing baju atas seragam Tari yang tersisa itu pun langsung saya lepas hingga tampaklah payudaranya dengan jelas. Kembali saya cium payudaranya. Selama beberapa menit berciuman, kuluman dan hisapan pada putingnya membikin Tari bertambah merintih dan mendesis, untung saja pada saat itu masih sepi dan bukan hari libur atau hari minggu.
“Mmh.. gan.. ti.. sst.. kiri.. sstt..” rintih Tari memberi aba-aba sambil tangan meraih kepala saya dan menggeser serta menekan pada payudaranya.
“Ter.. Us.. Sst.. Gas..”
Tangan kanan saya yang sedang berada di pusarnya turun merayap masuk ke dalam rok abu-abunya dan mengelus vaginanya yang masih terbungkus CD searah jarum jam.
“Sst.. Terus.. Gas” rintih Tari yang ikut membantu menyingkapkan rok abu-abu SMU-nya ke atas hingga pantatnya yang putih menyentuh paha saya yang masih terbungkus celana jins.
Setelah beberapa saat, saya masukkan tangan kanan ke dalam CD putihnya yang ternyata ditumbuhi bulu halus yang terawat rapi dan saya usap beberapa menit.
“Sst.. Gas.. Ge.. Li.. Mmh..” gumam Tari pelan sambil matanya menatap setengah sayu. Gerakan jari tangan saya keluar masukkan ke dalam vaginanya yang mulai basah.
“Mmh.. Sst.. Enak.. Gas.. Te.. Rus.. Agak cepe.. tan.. Sst”
“Sst.. Ya.. Nah.. Sst.. Gitu” rintih Tari yang kelihatan mulai terangsang hebat.
Tangan kiri saya yang tadinya hanya mengusap-usap pinggangnya jadi aktif mengusap payudara kirinya dan saya percepat permainan tangan pada vaginanya dan tiba-tiba saja Tari menjepit tangan saya dan disusul keluarnya cairan putih, berarti Tari telah orgasme yang pertama.
“Mmh.. Nikmat juga ya rasanya Gas” gumam Tari sambil memandangku sayu.
“Mau nggak ngerasain si boy?” bujuk saya melihat Tari yang sedang terangsang berat.
“Mmh..” gumannya pelan, agak ragu Tari menjawab tapi akhirnya Tari pindah ke belakang mobil, wah tambah asyik nich.
Saya juga berpindah ke belakang mobil sambil melepas celana jins serta CD saya hingga bagian bawah saya bugil dan atasnya masih memakai kaos, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang lewat.
“Gas.. Pelan aja” guman Tari pelan sambil melepas CD putihnya hingga Tari sekarang bagian bawah atasnya juga bugil cuma memakai baju seragam SMU-nya tanpa BH.
“Ya, Sayang, kupakai kondom dulu ya supaya aman” jawab saya sambil mengambil posisi duduk menghadap ke depan dan mengarahkan Tari dalam posisi saya pangku serta menghadap saya. Pantatnya yang semok saya pegang dengan kedua tangan dan memberi arahan pada Tari.
“Pegangin si boy, ya tangan kanan” pinta saya pada Tari yang memegang kontolku dan mengarahkan ke vaginanya yang masih sempit.
“Nanti Tari dorong ke bawah ya, kalau udah pas kontolnya”
“Aduh.. Sakit..” rintih Tari karena kontol saya meleset pada bibir vaginanya.
Kembali saya arahkan kontol pada lubang vaginanya, pada usaha keempat, bless akhirnya masuk kepala dulu.
“Sst.. Pe.. Lan.. Gas..” Rintih Tari sambil memegang tangan kiri saya dengan tangan kanannya dan mengigit bibir bawahnya dengan pelan.
“Pertamanya sakit kok, tapi agak lama juga enak” rayu saya sambil mendorong pinggulnya ke bawah hingga lama kelamaan, bless..
“Akhh..” jerit Tari lirih karena kontol saya semuanya masuk dalam vaginanya.
“Gimana rasanya?”
“Sakit sich, tapi.. Geli..” gumam Tari mencium saya dengan lembut. Dengan perlahan saya sodok vaginanya naik turun hingga Tari mendesis lirih.
“Sst.. Agak.. ee.. tengah.. sst..” rintih Tari lirih sambil menggoyangkan pinggulnya hingga sodokan dan goyangan itu menimbulkan bunyi clop.. clop.. clop.., begitu kira-kira.
Semakin lama sodokan saya percepat disertai dengan goyangan Tari yang makin Nitar hingga tangan saya kewalahan menahan posisi vaginanya agar pas pada kontol saya yang keluar masuk makin cepat. Bahkan payudaranya bergoyang-goyang ke atas ke bawah, kadang membentur muka saya, sungguh nikmat sekali.
“Barengan ya keluarnya ya.. Mmh..” perintah saya pada Tari karena sepertinya lahar putih saya sudah sampai puncaknya, jadi saya berusaha bertahan beberapa menit lagi.
“Mmhm.. Sst.. Ya.. Gas..”
“Ce.. Petan.. Sst.. Gas..” rintih Tari sambil memeluk dan menjepit saya dengan keras. Rupanya Tari sudah mencapai puncaknya dengan goyangannya yang makin keras.
“Ssrtss.. Seka.. Rang.. Sst.. Akhkk..” jerit Tari karena keluarnya cairan putih itu yang berbarengan dengan bobolnya pertahanan saya, secara bersaman kami saling memeluk menikmati sensasi yang luar biasa itu.
Beberapa saat kami masih berpelukan disertai tetesan keringat membasahi badan padahal mobil masih menjalankan AC-nya hampir full.
“Gimana rasanya, puas nggak” tanya saya sambil mencium bibirnya yang indah itu.
“Ternyata enak juga bercinta sama Om Bagas”
“Lain sama pacarnya Tari, agak kasar sich” celotehnya sambil melepaskan pelukan saya dan memakai kembali CD dan BH-nya yang berwarna putih itu, setelah Tari kembali memakai seragam sekolahnya dan tentu saya juga, jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang.
“Sebagai tanda terima kasih, gimana kalau Om Bagas kutraktir”
“Boleh saja, sekarang kita kemana?” tanya saya melihat Tari menjalankan mobilnya menuju kota.
“Pulang dong” jawabnya manja.
“Lho, terus saya ngapain”
“Nanti kukenalin sama mamanya Tari dan adiknya Tari, mau nggak Om?”
“Okey..”
Ternyata Tari tinggal di perumahan mewah, pantas bawanya mobil. Tampak seorang wanita yang anggun dan cantik berusia kurang lebih 48 tahun sedang membaca sebuah majalah. Tapi yang menarik perhatian saya, baju longdress yang dikenakannya dengan belahan atas yang rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang berwarna putih itu, mungkin lebih besar daripada punya Tari, tingginya kira-kira 164 cm/54 kg.
“Selamat siang Bu” sapa saya sopan.
“Selamat siang Pak” jawabnya ramah sambil bersalaman dengan saya.
“Ini Ma, guru privat matematika Tari yang baru, rencananya sich abis makan siang kita belajar”
“Oh ini to, yang namanya Pak Bagas yang sering diceritain Tari”
“E.. Eh.. Ya..” jawab saya tergagap-gagap karena begitu lihainya Tari memperkenalkan saya sebagai guru privatnya, pelajaran matematika lagi, aduh.. gawat padahal saya tidak bisa apa-apa.
Setelah berbicara dengan ibunya mengenai les dan lainnya, disepakati bahwa les privat cuma bisa saya lakukan dua minggu, itu pun harinya selang seling. Siang itu saya makan bersama Tari setelah ditinggal ibunya pergi keluar dan baru pulang sore hari. Nita sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos ketat khas ABG.
“Gila kamu Tari, nanti kalau ketahuan ibumu gimana?”
“Tenang aja Om, mama itu jarang kok nyampurin urusan Tari”
“Oh, gitu”
“Katanya Om mau ngajarin Tari” goda Tari penuh arti sambil mengerling nakal. Ini baru namanya surga dunia, setelah puas makan kami mengobrol sambil menonton film DVD yang dibawa Tari.
Selama dua minggu itu sebelum Tari akhirnya pindah ke Jakarta, kami sering bercinta tanpa sepengetahuan mamanya, pokoknya hampir tiap bertemu dengan berbagai posisi, yang sering di mobil, kamar tidur, bahkan di suatu acara ulang tahun mamanya, saya diundang.
“Gimana Gas, ramai nggak ulang tahun mama saya?”
“Wah, ramai sekali, pasti papamu pejabat ya?”
“Ah enggak kok, Papa itu pengusaha”
“Oh gitu” jawab saya sambil memperhatikan Tari yang malam itu memakai gaun yang sungguh indah, apalagi belahan atas gaunnya sungguh rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang putih itu, mungkin tidak pake BH, gaunnya yang berwarna hijau cuma sebatas di atas lutut. Bahkan kalau Tari duduk dan saya perhatikan gaun bawahnya, mungkin dengan sengaja Tari membuka gaun bawahnya hingga memperlihatkan CD-nya yang berwarna merah muda itu. Wow, sungguh membuat si boy berontak, tapi saya pura-pura cool saja.
“Gas, Tari lagi pengin nich, gimana?” tanya Tari tiba-tiba sambil mendekat pada saya.
“Kita cari ruangan yuk” ajak saya yang kebetulan tadi melihat ruangan dekat taman sedang kosong.
“Lho kok ke sini, apa tidak ke kamar?” tanya Tari heran.
“Bosan ah di kamar, cari variasi lain, mau nggak?”
“Ayo, cepetan waktunya mepet nich” gandeng Tari terburu-buru.
“Tari kamu malam ini can..” belum sempat saya berkata romantis sudah dipotong Tari dengan ciumannya yang melumat bibir saya dengan ganas, kami pun berciuman dengan alot sambil tangan saya masuk ke belahan gaunnya dan meremas payudaranya dengan gemas.
“Mmh..” gumam Tari karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir saya sambil tangannya membuka resleting celana panjang saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah berdiri sejak tadi.
Beberapa menit kami saling melakukan ciuman dan remasan hingga akhirnya Tari mendorong saya perlahan.
“Ayo Gas, buka celanamu” perintah Tari sambil melepas CD saya dan Tari mengambil posisi berjongkok untuk menghisap kontolku dengan sedotan yang agak keras.
“Pe.. Lan.. Aja..” pinta saya pada Tari karena kerasnya hisapan Tari hingga semua kontol saya masuk pada mulutnya. Beberapa menit telah berlalu dan saya sungguh tidak tahan dengan posisi tersebut.
“Gantian dong..” pinta saya pada Tari sambil saya berjongkok dan membuka CD merah mudanya serta menghisap vaginanya dan mencari biji kacangnya, menghisap dan menjilat sampai dalam vaginanya hingga semakin banyak cairan yang keluar dan Tari semakin merintih-rintih dalam posisi berdiri.
“Sst.. Isep.. Yang keras.. Gas.. Sst..”
“Udah Gas.. Sst.. Ayo..” rintihan dan celotehan Tari meminta saya untuk memasukkan si boy ke dalam vaginanya.
Kami sekarang berdiri tapi Tari menghadap ke tembok, saya singkap gaunnya dari belakang, dengan dibantu Tari saya berusaha menyodokkan kontol saya dari belakang pantatnya. Akhirnya masuk semua kontol saya dalam vaginanya, sodokan demi sodokan dengan cepat membuat Tari merintih meminta saya segera mengakhiri permainan itu, beberapa puluh menit kemudian..
“Sst.. Ayo.. Gas.. Sst.. Keluarin..”
“Tari udah pegel nich sst..” rintih Tari lirih karena kami jarang melakukannya dalam posisi berdiri.
“Sst.. Aduh.. Akhkk..” Dan akhirnya croott.. croot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan dengan jeritan Tari.
Itulah malam terakhir kami sebelum Lestari dan mamanya pindah ke Jakarta mengikuti tugas papanya yang saya dengar dipromosikan jadi general manager di sana.

Berita Terkini :