GAYA LIFESTYLE

Kisah Sugeng Handoko, ‘Pejuang Air’ Gunung Kidul

Duniabola99 Wajah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dulu tak seindah sekarang. Sebagian orang langsung membayangkan Gunung Kidul sebagai wilayah yang kering dan ‘mahal’ air.

Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk juga mengalami nasib serupa. Wajar saja, aktivitas warga seperti menebang pohon dan menggali bebatuan membuat wajah sekitar gunung tak lagi hijau. Apalagi warga yang kerap beraktivitas di sekitar inti gunung api purba Nglanggeran.

Pada 1999, inisiatif muncul di kalangan pemuda desa termasuk Sugeng Handoko. Kala itu ia masih terbilang belia yakni 11 tahun, tapi ‘virus perubahan’ yang ditularkan para seniornya membuat Sugeng memulai langkah sederhana demi mengembalikan keindahan dan kelestarian alam desanya. 


“(Langkahnya) lebih ke cerita ke orang tua. Sulit ngomong soal konservasi, biar lebih mudah kami bilangnya alam dijaga biar sawah selalu ada air,” ujar Sugeng pada Duniabola99.com saat ditemui di kedai kopi Tanamera, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Di desa, lanjut Sugeng, para orang tua umumnya mendengarkan anak-anak mereka. Berawal dari forum kecil, kemudian diusung ke forum yang lebih besar. Kesepakatan pun muncul yakni soal kawasan yang tidak boleh dimanfaatkan secara langsung dan yang boleh diolah warga.

Wilayah sekitar gunung api purba sebesar 48 hektar pun perlahan berubah. Gerakan konservasi dengan penanaman pohon yang dimulai pada 1999 membuahkan hasil. Gerakan pun tak serta merta berhenti, ia tetap berlanjut hingga kini.

Tak sampai di sini saja, pemerintah daerah setempat yang melihat perubahan positif Desa Nglanggeran Gubernur DIY memberikan dana hibah. Dana kemudian digunakan untuk membangun embung pada 2012. Sugeng menjelaskan embung digunakan untuk menampung air selama musim hujan dan dipanen kala musim kemarau.
Embung pun telah dimanfaatkan warga untuk mengairi 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng. Buah manis konservasi dimanfaatkan Sugeng bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nglanggeran untuk membangun dan mengelola Desa Ekowisata Nglanggeran.

Meski terlihat mulus, langkah Sugeng bersama para pemuda lain sempat dipandang sebelah mata.

“Waktu itu kami dianggap anak kemarin sore, tapi perubahan itu harus ada pembuktian. Beberapa kali kami diapresiasi. Ini pembuktian bahwa ada orang di luar sana yang memperhatikan usaha kami,” katanya.

Konservasi alam Desa Nglanggeran terbukti memberikan kehidupan dan penghidupan lebih baik untuk warga. Inspirasi untuk melestarikan alam juga ditularkan lewat ekowisata yang dikembangkan.

Sugeng mengatakan wisatawan yang datang tak sekadar menikmati kesegaran udara dan pemandangan indah desa. Mereka juga diberi nilai dan spirit konservasi. Wisatawan juga dijelaskan berbagai aturan apa saja yang tidak boleh mereka lakukan selama berwisata.

“Gunung Kidul dulu kering, kini ia jadi tempat yang hijau,” tutupnya.

Sementara itu, bersama Romo Marselus Hasan dari Nusa Tenggara Timur, Sugeng diapresiasi oleh label air minum dalam kemasan, Ades sebagai ‘pejuang air’. Usahanya untuk melestarikan alam termasuk menjaga air di Desa Nglanggeran menjadi alasan apresiasi ini diberikan.

“Pejuang air ini langkahnya memberikan dampak tidak hanya terhadap kelestarian air tapi juga kehidupan masyarakat sekitar,” kata Mohamad Rezki Yunus, Marketing Manager Hydration PT Coca Cola Indonesia pada awak media dalam kesempatan serupa.

Selengkapnya : 

Biar Makin Keren, Ini 5 Cara Baru Pakai Jeans

Suka Gaya Playful? Intip 5 OOTD Blogger Diana Rikasari